Bersatu dengan Kebangkitan Kristus
Yun. 1:1-17; I Kor. 15:19-28
Pada masa kini telah dikenal istilah “gen” sebagai faktor pembawa sifat. Johan Gregor Mendel adalah pendiri ilmu genetika modern yang mempelajari gen sebagai pembawa sifat. Istilah “genotip” untuk menunjuk komposisi faktor keturunan yang tidak tampak secara fisik, sedang Istilah “fenotip” untuk menunjuk sifat yang tampak pada keturunan. Dengan demikian setiap mahluk khususnya manusia menurunkan sifat kepada generasi selanjutnya. Apa yang dikemukakan di atas sebagai suatu ilustrasi, yaitu sifat-sifat atau karakter diturunkan dari satu keturunan kepada keturunan yang lain. Demikian pula halnya dengan dosa. Sejarah kehidupan umat manusia senantiasa menurunkan sifat-sifat dosa kepada generasi selanjutnya. Karena itu dari sudut iman, Alkitab menyaksikan bahwa manusia pertama Adam dan Hawa telah menurunkan situasi keberdosaannya kepada seluruh keturunan umat manusia. Tidak ada seorangpun manusia yang tidak berdosa, kecuali manusia Yesus Kristus. Situasi keberdosaan bukan karena seseorang telah melakukan dosa, tetapi sejak awal manusia telah memiliki potensi dan situasi berdosa yang membuat dia terpisah dengan Allah. Dengan perkataan lain sejak dalam kandungan seseorang telah berada dalam kondisi berdosa. Mzm. 51:7 menyatakan: “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku”. Kesaksian Mzm. 51:7 mengungkapkan kesadaran teologis bahwa setiap orang telah diperanakkan dalam dosa. Karena itu dalam iman Kristen tidak ada istilah “bayi” yang lahir dalam keadaan bersih. Setiap bayi telah membawa keberdosaan di dalam dirinya. Dalam proses pertumbuhannya, potensi dan sifat-sifat dosa tersebut semakin dimanifestasikan. Sebagaimana sifat dan karakter manusia tidak dapat diubah sepenuhnya pendidikan dan budaya, demikian pula halnya dengan situasi keberdosaan manusia tidak dapat diselamatkan oleh agama.
Alkitab menyaksikan tentang kejadian kelahiran Kristus karena kuasa Roh Kudus, dan bukan karena keinginan nafsu seorang pria. Kehidupan Kristus tidak berakhir dengan kematian, tetapi dengan kebangkitanNya. Karena itu di dalam kebangkitanNya, Kristus telah mengalahkan kuasa maut dan kuasa dosa. Persekutuan umat dengan Kristus akan memutuskan rantai kuasa dosa yang telah diwariskan dari manusia pertama, sehingga umat akan mengalami pengampunan dan hidup yang kekal. Makna iman kepada Kristus bukan sekedar percaya, tetapi tindakan percaya yang memampukan umat mengalami suatu relasi yang personal dan empirik dengan Kristus. Sikap iman yang demikian akan menempatkan umat percaya untuk menerima karya penebusan Kristus. Melalui kematian dan kebangkitan Kristus, umat akan menerima penebusan dosa. Karena itu dosa-dosa yang membelenggu mereka dalam persekutuan dengan Adam akan dipatahkan. Karena itu mereka akan dimampukan untuk mengalahkan kuasa dosa yang selama ini menguasai dan mengendalikan mereka. Persekutuan mereka dengan Kristus yang bangkit akan melahirkan kehidupan yang baru sebagai anak-anak Allah. Namun pada sisi lain kita menyadari betapa tidak mudahnya untuk mempraktekkan makna persekutuan dengan Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih cenderung untuk menjalin persekutuan dengan leluhur pertama kita yaitu manusia Adam. Kita lebih menyukai sifat-sifat dan karakter Adam dari pada Kristus. Karena itu pola kehidupan Adam sering kita jadikan sebagai pola dan citra diri kita. Akibatnya sikap iman kita kepada Kristus sering menjadi kamuflage. Dari luar kita tampak seperti berjalan untuk mengikuti Kristus, tetapi sesungguhnya dari dalam atau batin, kita masih mengikuti karakter dan sifat-sifat Adam. Melalui kebangkitan Kristus, kita dipanggil untuk melepaskan diri dari persekutuan dengan Adam, sehingga kita menempatkan Kristus yang telah mengalahkan kuasa dosa sebagai pusat dan pengendali seluruh kehidupan kita. Dengan demikian Kristus menjadi “prototype” (tipe dasar) yang mana setiap umat dipanggil untuk menyerupai Dia.
Tentunya efek yang menyelamatkan karena persekutuan dengan Kristus tidak bekerja secara otomatis. Persekutuan dengan Kristus yang menyelamatkan perlu dibangun, diperdalam dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana persekutuan kasih di antara sesama yang harus senantiasa dirawat dan diperjuangkan, demikian pula persekutuan kasih dengan Kristus. Untuk itu kita membutuhkan komitmen, kesetiaan, ketaatan dan ketulusan untuk merawat relasi dengan Kristus. Yang mana pada saat yang sama, kita berjuang untuk terus menaklukkkan sikap egoisme diri dan berbagai sifat-sifat manusiawi kita yang dikendalikan oleh dosa. Dengan demikian kehidupan kita akan dimurnikan dan menjadi semakin seperti Kristus. Tujuan utamanya adalah agar di dalam otoritas Kristus, segala sesuatu ditaklukkan di bawah kakiNya. Rasul Paulus berkata: “Sebab segala sesuatu telah ditaklukkan-Nya di bawah kaki-Nya. Tetapi kalau dikatakan, bahwa "segala sesuatu telah ditaklukkan", maka teranglah, bahwa Ia sendiri yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus itu tidak termasuk di dalamnya” (I Kor. 15:27). Jadi tujuan spiritualitas umat berada dalam persekutuan dengan Kristus adalah umat sungguh-sungguh menempatkan diriNya di bawah kuasa dan pengendalian Kristus, sehingga Kristus menjadi pusat dan sumber kehidupan. Dengan sikap umat yang demikian, Kristus akan mengalahkan kuasa dosa dalam kehidupan umat, dan umat mengalami hidup yang baru dalam kuasa kebangkitanNya. Karena itu umat akan dimampukan untuk memberi respon setiap firman Tuhan dengan kasih. Firman Tuhan bukan dilakukan karena suatu kewajiban, tuntutan agama atau untuk memperoleh pahala keselamatan – tetapi karena umat mengasihi Allah. Persekutuan dengan Kristus akan menghasilkan kasih ilahi yang tanpa syarat. Kasih ilahi inilah yang juga akan memampukan umat untuk membangun persekutuan dengan sesama. Jelaslah persekutuan dengan Kristus akan menghasilkan suatu persekutuan dengan sesama yang lebih murni.
Kehidupan kita sehari-hari seperti sikap Yunus yang memilih untuk melarikan diri dari hadapan Allah. Kita sering tidak peduli dengan sesama yang terbelenggu oleh dosa. Perasaan tidak aman sering menjadi alasan utama kita untuk menghindar dari kepedulian terhadap keselamatan orang lain. Atau sebaliknya kita merasa telah aman, sehingga kita tidak mau mengambil suatu tindakan yang dianggap berisiko dengan menjalin relasi. Sikap Yunus merupakan contoh sikap umat beriman yang hanya mau menjalin persekutuan dengan diri sendiri dan kelompok umatnya, tetapi tidak memiliki jalinan yang erat dengan Kristus. Akibatnya umat percaya hanya bersedia melaksanakan firman Tuhan sejauh firman Tuhan tersebut sesuai dengan keinginan hatinya. Jadi apabila firman Tuhan tersebut dianggap tidak sesuai dengan keinginan hatinya, mereka lebih memilih untuk mengabaikan dan melarikan diri dari hadapan Allah. Allah tetap “mengejar” Yunus agar Yunus peduli terhadap orang-orang Niniwe. Mungkin Allah dapat memilih orang yang lebih baik dan lebih saleh dari pada Yunus. Tetapi Allah menyatakan bahwa Yunus sebagai wakil dari umat percaya dipanggil untuk membangun persekutuan dengan sesama yang berbeda dengan dirinya. Kini di dalam Kristus, umat percaya yang bersekutu dengan Kristus dipanggil pula untuk peduli dan mengasihi sesama yang belum percay
Tidak ada komentar:
Posting Komentar